Sabtu, 24 Desember 2011
Sesuatu Yang Terlupakan
Sungguh mempilukan keadaan saman sekarang ini. Kita manusia yang sering di katakan beradab na,um sering bertindak berprilaku layaknya binatang tanpa melihat jati diri kita sebagai manusia yang telah diciptakan oleh Allah.swt sebagai mahkluk yang mulia dari ciptaannya yang lain. terkhususnya kita sebagai umat islam yang mengaku tuhan itu satu, dan yang patut di sembah adalah Allah.swt Muhammad sebgai Rasul kita dan Alquran kitab suci kita.
Namun mengapa kita melupakan sesuatu hal peristiwa bersejarah yang mana telah merubah kehidupan manusia khususnya kita yang mengaku islam dari jaman jahilia yang selalunya menyembah berhala menjadi manusia yang modern memproses segala hal menuju alam kesadaran kita sebagai manusia... tahun baru hijria barusaja berlalu, baru beberapa hari namun nuansa perjuangan nabi Muhammad.SAW sebagai rasul yang memperjuangkan hak-hak semua umat di lupakan begitu saja bahkan tidak sedikitpun yang tak mengerti arti dari makna tersebut. Justru sebaliknya Tahun baru masehi yang mana masa sejarahnya adalah tahun penguasaan bangsa Roma menguasa beberapa benua yang di agungkan di rayakan semewah mungkin, dengan cara yang tak sepantasnya kita lakukan. Dimana setiap tahun selalu saja di hiasi dengan minum-minuman keras, pesta yang meriah bahkan tidak sedikit di antara kaum hawa keperawanannya terenggut di malam tahun baru demi menuju suatu pembaruan dalam hidupnya yang katanya makin dewasa, makin berkembang, makin gaul... namun semua kembali dari jati diri kita sebagai manusia. Bahwa sesungguhnya syetan itu tidak terwujud karena mereka takut kepada manusia, Sehingga mereka hanya menyerang kita lewa hati, dan pemikiran kita di sesatkan.... jadi alangkah baiknya kita berpikir akan kehidupan kita sebagai manusia yang agung karena amal ibadah kita kepada Allah.swt dan kebaikan kita sesama manusia...
Selasa, 25 Oktober 2011
BOLEHKAH BERDUAAN DENGAN TUNANGAN?
Khitbah (meminang, melamar, bertunangan) menurut bahasa, adat, dan syara, bukanlah perkawinan. Ia hanya merupakan mukadimah (pendahuluan) bagi perkawinan dan pengantar ke sana. Seluruh kitab kamus membedakan antara kata-kata "khitbah" (melamar) dan "zawaj" (kawin); adat kebiasaan juga membedakan antara lelaki yang sudah meminang (bertunangan) dengan yang sudah kawin; dan syari'at membedakan secara jelas antara kedua istilah tersebut. Karena itu, khitbah tidak lebih dari sekadar mengumumkan keinginan untuk kawin dengan wanita tertentu, sedangkan zawaj (perkawinan) merupakan aqad yang mengikat dan perjanjian yang kuat yang mempunyai batas-batas, syarat-syarat, hak-hak, dan akibat-akibat tertentu. Al Qur'an telah mengungkapkan kedua perkara tersebut, yaitu ketika membicarakan wanita yang kematian suami: "Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita (yang suaminya telah meninggal dan masih dalam 'iddah) itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekadar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang ma'ruf (sindiran yang baik). Dan janganlah kamu ber'azam (bertetap hati) untuk beraqad nikah sebelum habis 'iddahnya." (Al Baqarah: 235) Khitbah, meski bagaimanapun dilakukan berbagai upacara, hal itu tak lebih hanya untuk menguatkan dan memantapkannya saja. Dan khitbah bagaimanapun keadaannya tidak akan dapat memberikan hak apa-apa kepada si peminang melainkan hanya dapat menghalangi lelaki lain untuk meminangnya, sebagaimana disebutkan dalam hadits: "Tidak boleh salah seorang diantara kamu meminang pinangan saudaranya." (Muttafaq 'alaih) Karena itu, yang penting dan harus diperhatikan di sini bahwa wanita yang telah dipinang atau dilamar tetap merupakan orang asing (bukan mahram) bagi si pelamar sehingga terselenggara perkawinan (akad nikah) dengannya. Tidak boleh si wanita diajak hidup serumah (rumah tangga) kecuali setelah dilaksanakan akad nikah yang benar menurut syara', dan rukun asasi dalam akad ini ialah ijab dan kabul. Ijab dan kabul adalah lafal-lafal (ucapan-ucapan) tertentu yang sudah dikenal dalam adat dan syara'. Selama akad nikah - dengan ijab dan kabul - ini belum terlaksana, maka perkawinan itu belum terwujud dan belum terjadi, baik menurut adat, syara', maupun undang-undang. Wanita tunangannya tetap sebagai orang asing bagi si peminang (pelamar) yang tidak halal bagi mereka untuk berduaan dan bepergian berduaan tanpa disertai salah seorang mahramnya seperti ayahnya atau saudara laki-lakinya. Menurut ketetapan syara, yang sudah dikenal bahwa lelaki yang telah mengawini seorang wanita lantas meninggalkan (menceraikan) isterinya itu sebelum ia mencampurinya, maka ia berkewaiiban memberi mahar kepada isterinya separo harga. Allah berfirman: "Jika kamu menceraikan isteri-isteri kamu sebelum kamu mencampuri mereka, padahal sesungguhnya kamu telah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika isteri-isterimu itu memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah ..." (Al Baqarah: 237) Adapun jika peminang meninggalkan (menceraikan) wanita pinangannya setelah dipinangnya, baik selang waktunya itu panjang maupun pendek, maka ia tidak punya kewajiban apa-apa kecuali hukuman moral dan adat yang berupa celaan dan cacian. Kalau demikian keadaannya, mana mungkin si peminang akan diperbolehkan berbuat terhadap wanita pinangannya sebagaimana yang diperbolehkan bagi orang yang telah melakukan akad nikah.
Karena itu, hendaklah segera melaksanakan akad nikah dengan wanita tunangannya itu. Jika itu sudah dilakukan, maka semua yang ditanyakan tadi diperbolehkanlah. Dan jika kondisi belum memungkinkan, maka sudah selayaknya ia menjaga hatinya dengan berpegang teguh pada agama dan ketegarannya sebagai laki-laki, mengekang nafsunya dan mengendalikannya dengan takwa. Sungguh tidak baik memulai sesuatu dengan melampaui batas yang halal dan melakukan yang haram. Saya nasihatkan pula kepada para bapak dan para wali agar mewaspadai anak-anak perempuannya, jangan gegabah membiarkan mereka yang sudah bertunangan. Sebab, zaman itu selalu berubah dan, begitu pula hati manusia. Sikap gegabah pada awal suatu perkara dapat menimbulkan akibat yang pahit dan getir. Sebab itu, berhenti pada batas-batas Allah merupakan tindakan lebih tepat dan lebih utama. "... Barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zhalim." (Al Baqarah: 229) "Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat kemenangan." (An Nur: 52)
Rabu, 17 Agustus 2011
Manakah Hari Raya sesungguhnya???
Walau sebenarnya idul fitri masih ada sekitar 2minggu lagi tapi ada baiknya aku mencoba memposting lagi nih stelah sekian lama blog tertinggal dalam arsip..dan aku pengen menyapa dulu buat semua pengunjung setia. Kalau saya punya kesalahan, sering mengkritik secara berlebihan, posting dengan bahasa yang menyayat hati, sampai mungkin melanggar batas2 prinsip anda. Dari lubuk hati paling dalam, saya minta maaf. Karena semua itu hanya sekedar rasa berbagi saya untuk anda semua.
Karena sebentar lagi nih hari keagamaan umat islam yang mana hari yang di rasakan semua umat manusia di muka bumi ini akan di rayakan dengan penuh hikma, kayaknya dimana-mana semua pada ngobrolin soal arti idul fitri secara harfiah dan segala pernak perniknya..
Kali ini obrolan saya tak jauh-jauh dari Idul Fitri. Tapi Idul fitri yang aku bahas kali ini mungkin aga sedikit membuat anda berpikir untuk bagaimana sebenarnya merayakan hari kemenangan ini setelah sekian lama kita berusaha melawan segala hawa nafsu kita baik itu lapar dan dahaga, maupun hasrat yang lainnya!!!
Idul fitri dari jaman kita lahir mungkin telah dibentuk sebagai istilah sebagai hari kemenangan. entah itu kemenangan dari hawa nafsu, atau kemenangan dari apapun. Yang jelas idul fitri adalah hari kemenangan. Kenapa disebut hari kemenangan? Kenapa tak disebut sebagai hari pesta juara? atau hari yang menggunakan kata selain kemenangan?? kenapa harus menggunakan kata kemenangan??
Secara tata bahasa indonesia dikatakan : ju·a·ra n 1 Olr orang (regu) yg mendapat kemenangan dl pertandingan yg terakhir; sementara kata ke·me·nang·an n 1 hal menang: – itu diperolehnya dng perjuangan berat; 2 keunggulan; kelebihan: kekalahan dl harta ditebus dng – dl ilmu dan amal. http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php
Sebenarnya memang tak cukup menyenangkan jika kita menggunakan kata kemenangan ketika kata itu kita gunakan untuk mewakili hari idul fitri setelah kita tahu arti secara kamus besar bahasa indonesia. Kenapa? Karena kita merasa kita telah bertarung melawan hawa nafsu kita. Kita telah berjuang melawan semua halangan di depan mata. Dan kita semua tahu itu. Mungkin akan lebih tepat jika kita menggunakan kata hari menjadi juara sebagai peringatan untuk hari yang fitri tersebut. Karena kita bukan hanya menang. Tapi kita JUARA. Menjadi juara dalam pertandingan melawan syetan. Dan sebuah bentuk pertandingan adalah salah satu unsur utama disematkannya kata juara. Berbeda dengan kemenangan yang lebih bersifat general dan tanpa ada keterangan melalui sebuah pertandingan atau perlombaan. Tapi ada yang menguatkan kenapa kata kemenangan lebih pantas disematkan. Coba perhatikan kata itu diperolehnya dng perjuangan berat.
Nah bingung kan? Sebenarnya kita ini juara atau menang? Kalau kita bilang juara memang betul. Karena kita kan melawan hawa nafsu. Hawa nafsu sendiri sebenarnya kalau ditarik sebuah bentuk dapat dikatakan sebagai satu biji atau buah atau bongkah yang bersifat tunggal. Terlepas jika anda katakan bahwa hawa nafsu itu ada nafsu makan, nafsu untuk minum sampai nafsu birahi. Yang jelas hal tersebut bisa dikatakan sebagai sebuah bentuk komposisi yang dalam bahasa indonesia diberi kata : hawa nafsu.
Kemenangan sendiri sebenarnya juga ga salah. Karena kalau secara bentuk pembahasan kita dapat memegang teguh pada arti secara harfiah dari kata kemenangan yang sudah saya sebutkan diatas tadi. Dimana kemenangan itu diperoleh dengan perjuangan yang berat. Memang juara juga melewati perjuangan yang berat. Namun kata juara lebih merujuk pada bentuk pertandingan sementara kemenangan lebih menjurus pada hasil akhir. Dan lagi sebenarnya kata kemenangan juga lebih besar cakupannya. Lihat cukilan berikut :
Kemenangan yang kita raih di idul fitri sebenarnya bukan kemenangan yang kita dapat selama berpuasa saja. Namun lebih dari itu, kita juga menang melawan rasa malas yang berada di urutan ketiga setelah haus dan lapar. Kenapa bisa begitu? Karena coba kita ingat. Selama puasa kita lebih rajin sholat. Rajin tarawih. Bahkan sampai mau sahur. Dimana sahur juga merupakan bagian dari ibadah. Mungkin banyak juga yang menambahkan dengan baca qur’an dan sebagainya. Namun secara umum, hal tersebut diatas bisa kita rasakan sebagai kemenangan kita dari rasa malas. Yang mana rasa malas sendiri juga merupakan bagian dari hawa nafsu. Dimana hal tersebut membawa kita pada satu taraf lebih tinggi, setidaknya menyentuh taraf terbiasa dan ga enak jika ga dilakukan lagi.
Jadi kemenangan juga menduduki taraf yang sama dengan kata juara sebagai kata yang sepadan untuk menggambarkan hari yang paling dinanti oleh anak kecil di indonesia ini.
Dan ada satu riwayat yang pernah aku baca di salah satu mmajalah islam terkemuka... dimana menceritakan suatu kisah seorang muslim yang begitu mencintai agamanya sehingga di rela berjuang demi kepentingan agamanya.... hingga pada suatu hari setelah umat muslim menjalankan bulan puasa selama sebulan penuh di bulan ramadhan... tibalah hari kemenangan yang di anggap suci oleh umat islam hari yang dimana telah membuat segala sesuatu pada diri kita kembali bersih.
setelah selesai melaksanakan sholat Idul fitri di lapangan org taat ini pun balik ke rumahnya untuk bersilahturahmi kepada keluarga-keluarga terdekatnya dan saling memaafkan kesalahan yang dulu pernah dia perpuat. namun setelah dia tiba di rumahnya di tertegun sesaat melihat apa yang terjadi... dimana di meja telah tersedia berbagai makanan lezat yang mengundang selera... dan penampilan yang begitu mewah menampilkan segala kemilauan perhiasan... tidak lama kemudian dia pun menangis berlari ke mesjid untuk minta ampunan kepada Allah.swt. dia telah menangisi segala kesalahan yang di perbuat selama ini... namun mengapa, setelah sekian lama dia menahan lapar dan haus kini setelah hari kemenangan itu tiba semua seperti hampa. dia merasa telah di kalahkan oleh syetan yang selama ini dia lawan untuk tidak tegoda bujuk rayu... segala kesombongan manusia telah keluar setelah hari kemenangan itu tiba... diamana kita semua telah saling mempamerkan apa yang kita miliki, dan memakan makanan yang begitu membuat kita kenyang sesaat... dan melupakan hikma di bulan ramadhan...Jangan menghancurkan pahala selama Ramadhan dengan makhsiat di hari Raya seperti peremppuan yang mengurai kembali benang yang sudah dipintalnya (QS. Al-Nahl:92) “ kata K
dimana semua kemunafikan telah kembali lagi ke dunia... semoga kita bisa selalu menjadikan bulan setelah ramadhan ini menjadi bulan ramadhan berikutnya.. maksudnya segala dosa yang telah kita perbuat, kita betul-betul menyadari dan bertobat untuk tidak pernah melakukannya lagi.
Dalam ajaran agama Islam “ dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesunguhnya pemboros-pemborosan itu adalah saudara-saudara Syaitan dan Syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya “
Karena sebentar lagi nih hari keagamaan umat islam yang mana hari yang di rasakan semua umat manusia di muka bumi ini akan di rayakan dengan penuh hikma, kayaknya dimana-mana semua pada ngobrolin soal arti idul fitri secara harfiah dan segala pernak perniknya..
Kali ini obrolan saya tak jauh-jauh dari Idul Fitri. Tapi Idul fitri yang aku bahas kali ini mungkin aga sedikit membuat anda berpikir untuk bagaimana sebenarnya merayakan hari kemenangan ini setelah sekian lama kita berusaha melawan segala hawa nafsu kita baik itu lapar dan dahaga, maupun hasrat yang lainnya!!!
Idul fitri dari jaman kita lahir mungkin telah dibentuk sebagai istilah sebagai hari kemenangan. entah itu kemenangan dari hawa nafsu, atau kemenangan dari apapun. Yang jelas idul fitri adalah hari kemenangan. Kenapa disebut hari kemenangan? Kenapa tak disebut sebagai hari pesta juara? atau hari yang menggunakan kata selain kemenangan?? kenapa harus menggunakan kata kemenangan??
Secara tata bahasa indonesia dikatakan : ju·a·ra n 1 Olr orang (regu) yg mendapat kemenangan dl pertandingan yg terakhir; sementara kata ke·me·nang·an n 1 hal menang: – itu diperolehnya dng perjuangan berat; 2 keunggulan; kelebihan: kekalahan dl harta ditebus dng – dl ilmu dan amal. http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php
Sebenarnya memang tak cukup menyenangkan jika kita menggunakan kata kemenangan ketika kata itu kita gunakan untuk mewakili hari idul fitri setelah kita tahu arti secara kamus besar bahasa indonesia. Kenapa? Karena kita merasa kita telah bertarung melawan hawa nafsu kita. Kita telah berjuang melawan semua halangan di depan mata. Dan kita semua tahu itu. Mungkin akan lebih tepat jika kita menggunakan kata hari menjadi juara sebagai peringatan untuk hari yang fitri tersebut. Karena kita bukan hanya menang. Tapi kita JUARA. Menjadi juara dalam pertandingan melawan syetan. Dan sebuah bentuk pertandingan adalah salah satu unsur utama disematkannya kata juara. Berbeda dengan kemenangan yang lebih bersifat general dan tanpa ada keterangan melalui sebuah pertandingan atau perlombaan. Tapi ada yang menguatkan kenapa kata kemenangan lebih pantas disematkan. Coba perhatikan kata itu diperolehnya dng perjuangan berat.
Nah bingung kan? Sebenarnya kita ini juara atau menang? Kalau kita bilang juara memang betul. Karena kita kan melawan hawa nafsu. Hawa nafsu sendiri sebenarnya kalau ditarik sebuah bentuk dapat dikatakan sebagai satu biji atau buah atau bongkah yang bersifat tunggal. Terlepas jika anda katakan bahwa hawa nafsu itu ada nafsu makan, nafsu untuk minum sampai nafsu birahi. Yang jelas hal tersebut bisa dikatakan sebagai sebuah bentuk komposisi yang dalam bahasa indonesia diberi kata : hawa nafsu.
Kemenangan sendiri sebenarnya juga ga salah. Karena kalau secara bentuk pembahasan kita dapat memegang teguh pada arti secara harfiah dari kata kemenangan yang sudah saya sebutkan diatas tadi. Dimana kemenangan itu diperoleh dengan perjuangan yang berat. Memang juara juga melewati perjuangan yang berat. Namun kata juara lebih merujuk pada bentuk pertandingan sementara kemenangan lebih menjurus pada hasil akhir. Dan lagi sebenarnya kata kemenangan juga lebih besar cakupannya. Lihat cukilan berikut :
Kemenangan yang kita raih di idul fitri sebenarnya bukan kemenangan yang kita dapat selama berpuasa saja. Namun lebih dari itu, kita juga menang melawan rasa malas yang berada di urutan ketiga setelah haus dan lapar. Kenapa bisa begitu? Karena coba kita ingat. Selama puasa kita lebih rajin sholat. Rajin tarawih. Bahkan sampai mau sahur. Dimana sahur juga merupakan bagian dari ibadah. Mungkin banyak juga yang menambahkan dengan baca qur’an dan sebagainya. Namun secara umum, hal tersebut diatas bisa kita rasakan sebagai kemenangan kita dari rasa malas. Yang mana rasa malas sendiri juga merupakan bagian dari hawa nafsu. Dimana hal tersebut membawa kita pada satu taraf lebih tinggi, setidaknya menyentuh taraf terbiasa dan ga enak jika ga dilakukan lagi.
Jadi kemenangan juga menduduki taraf yang sama dengan kata juara sebagai kata yang sepadan untuk menggambarkan hari yang paling dinanti oleh anak kecil di indonesia ini.
Dan ada satu riwayat yang pernah aku baca di salah satu mmajalah islam terkemuka... dimana menceritakan suatu kisah seorang muslim yang begitu mencintai agamanya sehingga di rela berjuang demi kepentingan agamanya.... hingga pada suatu hari setelah umat muslim menjalankan bulan puasa selama sebulan penuh di bulan ramadhan... tibalah hari kemenangan yang di anggap suci oleh umat islam hari yang dimana telah membuat segala sesuatu pada diri kita kembali bersih.
setelah selesai melaksanakan sholat Idul fitri di lapangan org taat ini pun balik ke rumahnya untuk bersilahturahmi kepada keluarga-keluarga terdekatnya dan saling memaafkan kesalahan yang dulu pernah dia perpuat. namun setelah dia tiba di rumahnya di tertegun sesaat melihat apa yang terjadi... dimana di meja telah tersedia berbagai makanan lezat yang mengundang selera... dan penampilan yang begitu mewah menampilkan segala kemilauan perhiasan... tidak lama kemudian dia pun menangis berlari ke mesjid untuk minta ampunan kepada Allah.swt. dia telah menangisi segala kesalahan yang di perbuat selama ini... namun mengapa, setelah sekian lama dia menahan lapar dan haus kini setelah hari kemenangan itu tiba semua seperti hampa. dia merasa telah di kalahkan oleh syetan yang selama ini dia lawan untuk tidak tegoda bujuk rayu... segala kesombongan manusia telah keluar setelah hari kemenangan itu tiba... diamana kita semua telah saling mempamerkan apa yang kita miliki, dan memakan makanan yang begitu membuat kita kenyang sesaat... dan melupakan hikma di bulan ramadhan...Jangan menghancurkan pahala selama Ramadhan dengan makhsiat di hari Raya seperti peremppuan yang mengurai kembali benang yang sudah dipintalnya (QS. Al-Nahl:92) “ kata K
dimana semua kemunafikan telah kembali lagi ke dunia... semoga kita bisa selalu menjadikan bulan setelah ramadhan ini menjadi bulan ramadhan berikutnya.. maksudnya segala dosa yang telah kita perbuat, kita betul-betul menyadari dan bertobat untuk tidak pernah melakukannya lagi.
Dalam ajaran agama Islam “ dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesunguhnya pemboros-pemborosan itu adalah saudara-saudara Syaitan dan Syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya “
Selasa, 07 Juni 2011
Hari Sabtunya Orang Yahudi
Dan tanyakanlah kepada Bani Israel tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.
Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" Mereka menjawab: "Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa".
Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang lalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.
Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: "Jadilah kamu kera yang hina". Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memberitahukan, bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai hari kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya.
Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (Al-A'Raaf: 63-68)
Kisah ini menceritakan tentang sebuah desa orang-orang Yahudi yang terletak di pesisir lautan, yaitu sebuah desa pesisir di antara desa-desa yang mereka diami. Orang-orang Yahudi setempat telah diperintahkan Allah untuk tidak berburu dan menangkap ikan pada hari Sabtu dan mereka dibolehkan untuk menangkap pada hari-hari lain dalam sepekan.
Allah telah menguji mereka dengan kewajiban ini, di mana ikan-ikan itu menjauhi mereka dan jarang ditemui pada hari-hari dibolehkannya menangkap ikan, sementara pada hari Sabtu ikan-ikan itu justru banyak mendatangi mereka dengan terapung-apung di sekitar mereka.
Setan pun membisiki hati sekelompok orang dari penduduk desa dan membujuk mereka untuk menangkap ikan. Akan tetapi, bagaimana caranya mereka dapat mengelak dari perintah Allah tersebut? Setan menunjukkan alibi, cara tipu daya, serta membimbing mereka kiat agar dapat menangkap ikan pada hari Sabtu.
Penduduk desa itu terbagi menjadi dua kelompok dalam menghadapi kelompok yang melanggar batas tersebut. Kelompok pertama adalah orang-orang saleh dari para dai yang menjalankan kewajiban mereka dalam dakwah dan memprotes orang-orang yang mengakali perintah-perintah Allah dengan berbagai alibi, pelanggaran, dan perburuan mereka pada hari Sabtu.
Kelompok kedua adalah orang-orang yang berdiam diri, yang diam melihat pelanggaran orang-orang yang melampaui batas, dan mereka justru melontarkan celaan dan penentangan terhadap orang-orang saleh yang berdakwah, dengan alasan bahwa tidak ada manfaatnya menasihati dan memperingatkan sekelompok orang yang memang sudah sepantasnya binasa dan akan mendapat azab.
Orang-orang saleh itu menjelaskan kepada orang-orang yang mencela mereka dan mendiamkan kemungkaran itu bahwa mereka memprotes kemungkaran itu dengan tujuan melepaskan tanggung jawab di hadapan Allah dan demi menunaikan kewajiban serta agar mereka mau bertakwa.
Ketika azab Allah menimpa orang-orang yang melampaui batas itu, maka Allah mengubah wujud mereka menjadi monyet-monyet hina. Perubahan bentuk wujud itu memang terjadi sesungguhnya. Tidak lama setelah berubah wujud menjadi monyet yang tidak mempunyai keturunan, mereka akhirnya mati.
Allah menyelamatkan orang-orang saleh para dai itu. Sementara itu, Al-Quran tidak menjelaskan nasib orang-orang yang diam, barangkali karena mereka tidak berarti dan hina di mata Allah. Karena mereka tidak disebutkan bersama orang-orang yang selamat maka tampaknya mereka termasuk orang-orang yang binasa dan terkutuk.
Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: "Mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?" Mereka menjawab: "Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertakwa".
Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang lalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.
Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: "Jadilah kamu kera yang hina". Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu memberitahukan, bahwa sesungguhnya Dia akan mengirim kepada mereka (orang-orang Yahudi) sampai hari kiamat orang-orang yang akan menimpakan kepada mereka azab yang seburuk-buruknya.
Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksa-Nya, dan sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Kami bagi-bagi mereka di dunia ini menjadi beberapa golongan; di antaranya ada orang-orang yang saleh dan di antaranya ada yang tidak demikian. Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran). (Al-A'Raaf: 63-68)
Kisah ini menceritakan tentang sebuah desa orang-orang Yahudi yang terletak di pesisir lautan, yaitu sebuah desa pesisir di antara desa-desa yang mereka diami. Orang-orang Yahudi setempat telah diperintahkan Allah untuk tidak berburu dan menangkap ikan pada hari Sabtu dan mereka dibolehkan untuk menangkap pada hari-hari lain dalam sepekan.
Allah telah menguji mereka dengan kewajiban ini, di mana ikan-ikan itu menjauhi mereka dan jarang ditemui pada hari-hari dibolehkannya menangkap ikan, sementara pada hari Sabtu ikan-ikan itu justru banyak mendatangi mereka dengan terapung-apung di sekitar mereka.
Setan pun membisiki hati sekelompok orang dari penduduk desa dan membujuk mereka untuk menangkap ikan. Akan tetapi, bagaimana caranya mereka dapat mengelak dari perintah Allah tersebut? Setan menunjukkan alibi, cara tipu daya, serta membimbing mereka kiat agar dapat menangkap ikan pada hari Sabtu.
Penduduk desa itu terbagi menjadi dua kelompok dalam menghadapi kelompok yang melanggar batas tersebut. Kelompok pertama adalah orang-orang saleh dari para dai yang menjalankan kewajiban mereka dalam dakwah dan memprotes orang-orang yang mengakali perintah-perintah Allah dengan berbagai alibi, pelanggaran, dan perburuan mereka pada hari Sabtu.
Kelompok kedua adalah orang-orang yang berdiam diri, yang diam melihat pelanggaran orang-orang yang melampaui batas, dan mereka justru melontarkan celaan dan penentangan terhadap orang-orang saleh yang berdakwah, dengan alasan bahwa tidak ada manfaatnya menasihati dan memperingatkan sekelompok orang yang memang sudah sepantasnya binasa dan akan mendapat azab.
Orang-orang saleh itu menjelaskan kepada orang-orang yang mencela mereka dan mendiamkan kemungkaran itu bahwa mereka memprotes kemungkaran itu dengan tujuan melepaskan tanggung jawab di hadapan Allah dan demi menunaikan kewajiban serta agar mereka mau bertakwa.
Ketika azab Allah menimpa orang-orang yang melampaui batas itu, maka Allah mengubah wujud mereka menjadi monyet-monyet hina. Perubahan bentuk wujud itu memang terjadi sesungguhnya. Tidak lama setelah berubah wujud menjadi monyet yang tidak mempunyai keturunan, mereka akhirnya mati.
Allah menyelamatkan orang-orang saleh para dai itu. Sementara itu, Al-Quran tidak menjelaskan nasib orang-orang yang diam, barangkali karena mereka tidak berarti dan hina di mata Allah. Karena mereka tidak disebutkan bersama orang-orang yang selamat maka tampaknya mereka termasuk orang-orang yang binasa dan terkutuk.
Sabtu, 21 Mei 2011
Kisah Teladan
Mang Udin, begitulah dia dipanggil, seorang penjual jasa perbaikan sepatu yang sering disebut tukang sol. Pagi buta sudah melangkahkan kakinya meninggalkan anak dan istrinya yang berharap, nanti sore hari mang Udin membawa uang untuk membeli nasi dan sedikit lauk pauk. Mang Udin terus menyusuri jalan sambil berteriak menawarkan jasanya. Sampai tengah hari, baru satu orang yang menggunakan jasanya. Itu pun hanya perbaikan kecil.
Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.
Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukan sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.
“Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nich?” kata mang Udin memulai percakapan.
“Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.
“Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin jahitan.” kata mang Udin memelas.
“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”
“Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal.
“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.
“Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.
“Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.
Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.
“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”
Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.
Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,
“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.”
Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,
“Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.”
“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum.
“Abang yakin?”
“Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan.
“Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap.
“Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.
Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.
“Apa kabar mang Udin?”
“Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa koq penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan.
Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata,
“Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.”
“Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran.
“Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.
Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,
“Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?”
“Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.
Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.
“Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.
Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.
“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh.
“Tidak.”
“Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”
Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.
“OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.
“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.”
Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimist bahwa hidup akan lebih baik.
Perut mulai keroncongan. Hanya air teh bekal dari rumah yang mengganjal perutnya. Mau beli makan, uangnya tidak cukup. Hanya berharap dapat order besar sehingga bisa membawa uang ke rumah. Perutnya sendiri tidak dia hiraukan.
Di tengah keputusasaan, dia berjumpa dengan seorang tukan sol lainnya. Wajahnya cukup berseri. “Pasti, si Abang ini sudah dapat uang banyak nich.” pikir mang Udin. Mereka berpapasan dan saling menyapa. Akhirnya berhenti untuk bercakap-cakap.
“Bagaimana dengan hasil hari ini bang? Sepertinya laris nich?” kata mang Udin memulai percakapan.
“Alhamdulillah. Ada beberapa orang memperbaiki sepatu.” kata tukang sol yang kemudian diketahui namanya Bang Soleh.
“Saya baru satu bang, itu pun cuma benerin jahitan.” kata mang Udin memelas.
“Alhamdulillah, itu harus disyukuri.”
“Mau disyukuri gimana, nggak cukup buat beli beras juga.” kata mang Udin sedikit kesal.
“Justru dengan bersyukur, nikmat kita akan ditambah.” kata bang Soleh sambil tetap tersenyum.
“Emang begitu bang?” tanya mang Udin, yang sebenarnya dia sudah tahu harus banyak bersyukur.
“Insya Allah. Mari kita ke Masjid dulu, sebentar lagi adzan dzuhur.” kata bang Soleh sambil mengangkat pikulannya.
Mang udin sedikit kikuk, karena dia tidak pernah “mampir” ke tempat shalat.
“Ayolah, kita mohon kepada Allah supaya kita diberi rezeki yang barakah.”
Akhirnya, mang Udin mengikuti bang Soleh menuju sebuah masjid terdekat. Bang Soleh begitu hapal tata letak masjid, sepertinya sering ke masjid tersebut.
Setelah shalat, bang Soleh mengajak mang Udin ke warung nasi untuk makan siang. Tentu saja mang Udin bingung, sebab dia tidak punya uang. Bang Soleh mengerti,
“Ayolah, kita makan dulu. Saya yang traktir.”
Akhirnya mang Udin ikut makan di warung Tegal terdekat. Setelah makan, mang Udin berkata,
“Saya tidak enak nich. Nanti uang untuk dapur abang berkurang dipakai traktir saya.”
“Tenang saja, Allah akan menggantinya. Bahkan lebih besar dan barakah.” kata bang Soleh tetap tersenyum.
“Abang yakin?”
“Insya Allah.” jawab bang soleh meyakinkan.
“Kalau begitu, saya mau shalat lagi, bersyukur, dan mau memberi kepada orang lain.” kata mang Udin penuh harap.
“Insya Allah. Allah akan menolong kita.” Kata bang Soleh sambil bersalaman dan mengucapkan salam untuk berpisah.
Keesokan harinya, mereka bertemu di tempat yang sama. Bang Soleh mendahului menyapa.
“Apa kabar mang Udin?”
“Alhamdulillah, baik. Oh ya, saya sudah mengikuti saran Abang, tapi mengapa koq penghasilan saya malah turun? Hari ini, satu pun pekerjaan belum saya dapat.” kata mang Udin setengah menyalahkan.
Bang Soleh hanya tersenyum. Kemudian berkata,
“Masih ada hal yang perlu mang Udin lakukan untuk mendapat rezeki barakah.”
“Oh ya, apa itu?” tanya mang Udin penasaran.
“Tawakal, ikhlas, dan sabar.” kata bang Soleh sambil kemudian mengajak ke Masjid dan mentraktir makan siang lagi.
Keesokan harinya, mereka bertemu lagi, tetapi di tempat yang berbeda. Mang Udin yang berhari-hari ini sepi order berkata setengah menyalahkan lagi,
“Wah, saya makin parah. Kemarin nggak dapat order, sekarang juga belum. Apa saran abang tidak cocok untuk saya?”
“Bukan tidak, cocok. Mungkin keyakinan mang Udin belum kuat atas pertolongan Allah. Coba renungkan, sejauh mana mang Udin yakin bahwa Allah akan menolong kita?” jelas bang Soleh sambil tetap tersenyum.
Mang Udin cukup tersentak mendengar penjelasan tersebut. Dia mengakui bahwa hatinya sedikit ragu. Dia “hanya” coba-coba menjalankan apa yang dikatakan oleh bang Soleh.
“Bagaimana supaya yakin bang?” kata mang Udin sedikit pelan hampir terdengar.
Rupanya, bang Soleh sudah menebak, kemana arah pembicaraan.
“Saya mau bertanya, apakah kita janjian untuk bertemu hari ini, disini?” tanya bang Soleh.
“Tidak.”
“Tapi kenyataanya kita bertemu, bahkan 3 hari berturut. Mang Udin dapat rezeki bisa makan bersama saya. Jika bukan Allah yang mengatur, siapa lagi?” lanjut bang Soleh. Mang Udin terlihat berpikir dalam. Bang Soleh melanjutkan, “Mungkin, sudah banyak petunjuk dari Allah, hanya saja kita jarang atau kurang memperhatikan petunjuk tersebut. Kita tidak menyangka Allah akan menolong kita, karena kita sebenarnya tidak berharap. Kita tidak berharap, karena kita tidak yakin.”
Mang Udin manggut-manggut. Sepertinya mulai paham. Kemudian mulai tersenyum.
“OK dech, saya paham. Selama ini saya akui saya memang ragu. Sekarang saya yakin. Allah sebenarnya sudah membimbing saya, saya sendiri yang tidak melihat dan tidak mensyukurinya. Terima kasih abang.” kata mang Udin, matanya terlihat berkaca-kaca.
“Berterima kasihlah kepada Allah. Sebentar lagi dzuhur, kita ke Masjid yuk. Kita mohon ampun dan bersyukur kepada Allah.”
Mereka pun mengangkat pikulan dan mulai berjalan menuju masjid terdekat sambil diiringi rasa optimist bahwa hidup akan lebih baik.
Keistimewaan Rasulullah SAW dan Umatnya dalam Kitab Terdahulu
Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Atha’ bin Yasar, Aku telah menemui Abdullah bin Amru bin Al-Ash ra. lalu bertanya kepadanya “Beritahulah aku tentang sifat-sifat Rasulullah SAW yang ditemui di dalam Taurat! Maka jawabnya: Demi Allah, memang benar, bahwa Nabi kita itu tersebut sifatnya di dalam Taurat, sebagaimana yang terdapat sifatnya di dalam Al-Quran, yaitu berbunyi: Wahai Nabi! Sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi dan pembawa berita gembira dan ancaman, dan sebagai penghulu dari ummat yang ummi. Engkau adalah hambaku dan utusanKu.
Aku namakan engkau Mutawakkil (orang yang menyerahkan diri kepada Tuhannya), engkau bukan seorang yang keras atau kasar, dan bukan orang yang suka berteriak di pasar. Engkau bukanlah orang yang membalas keburukan dengan yang keburukan, akan tetapi engkau suka memaafkan dan mengampunkan. Dan dia itu tidak akan diambil nyawanya, sehingga mereka (pengikutnya) meluruskan agama yang bengkok ini dengan mengucapkan ‘Laa llaaha illallaah!’ yakni tiada Tuhan melainkan Allah! Dengan itu dia dapat membuka mata yang buta, telinga yang tuli dan hati yang tertutup.
Wahab bin Munabbih juga berkata bahwa Allah ta’ala telah mewahyukan kepada Nabi Daud a.s di dalam kitab Zabur, yang berbunyi “Hai Daud! Ingatlah, bahwa akan datang selepasmu seorang Nabi namanya Ahmad atau Muhammad, dia seorang yang benar, penghulu sekalian Nabi, Aku tidak akan marah sama sekali kepadanya, dan dia juga tidak pernah menyebabkan Aku marah.
Aku sudah mengampuninya sebelum dia berbuat salah atas segala dosanya yang terdahulu dan yang akan datang. Ummatnya senantiasa dirahmati, Aku telah memberikannya Nawafil, yakni amalan-amalan sunnat sebagaimana yang Aku berikan kepada para Nabi, dan Aku telah mewajibkan ke atas mereka (ummat Nabi Muhammad) bermacam-macam fardhu, yang telah Aku wajibkan ke atas semua para Nabi dan para Rasul, sehingga mereka nanti datang kepadaku di hari kiamat, di mana cahaya mereka seperti cahaya-cahaya para Nabi. Hai Daud! Bahwa sesungguhnya Aku telah utamakan Muhammad dan ummatnya di atas sekalian ummat seluruhnya.
(Al-Bidayah Wan-Nihayah)
Aku namakan engkau Mutawakkil (orang yang menyerahkan diri kepada Tuhannya), engkau bukan seorang yang keras atau kasar, dan bukan orang yang suka berteriak di pasar. Engkau bukanlah orang yang membalas keburukan dengan yang keburukan, akan tetapi engkau suka memaafkan dan mengampunkan. Dan dia itu tidak akan diambil nyawanya, sehingga mereka (pengikutnya) meluruskan agama yang bengkok ini dengan mengucapkan ‘Laa llaaha illallaah!’ yakni tiada Tuhan melainkan Allah! Dengan itu dia dapat membuka mata yang buta, telinga yang tuli dan hati yang tertutup.
Wahab bin Munabbih juga berkata bahwa Allah ta’ala telah mewahyukan kepada Nabi Daud a.s di dalam kitab Zabur, yang berbunyi “Hai Daud! Ingatlah, bahwa akan datang selepasmu seorang Nabi namanya Ahmad atau Muhammad, dia seorang yang benar, penghulu sekalian Nabi, Aku tidak akan marah sama sekali kepadanya, dan dia juga tidak pernah menyebabkan Aku marah.
Aku sudah mengampuninya sebelum dia berbuat salah atas segala dosanya yang terdahulu dan yang akan datang. Ummatnya senantiasa dirahmati, Aku telah memberikannya Nawafil, yakni amalan-amalan sunnat sebagaimana yang Aku berikan kepada para Nabi, dan Aku telah mewajibkan ke atas mereka (ummat Nabi Muhammad) bermacam-macam fardhu, yang telah Aku wajibkan ke atas semua para Nabi dan para Rasul, sehingga mereka nanti datang kepadaku di hari kiamat, di mana cahaya mereka seperti cahaya-cahaya para Nabi. Hai Daud! Bahwa sesungguhnya Aku telah utamakan Muhammad dan ummatnya di atas sekalian ummat seluruhnya.
(Al-Bidayah Wan-Nihayah)
Langganan:
Komentar (Atom)