Walau sebenarnya idul fitri masih ada sekitar 2minggu lagi tapi ada baiknya aku mencoba memposting lagi nih stelah sekian lama blog tertinggal dalam arsip..dan aku pengen menyapa dulu buat semua pengunjung setia. Kalau saya punya kesalahan, sering mengkritik secara berlebihan, posting dengan bahasa yang menyayat hati, sampai mungkin melanggar batas2 prinsip anda. Dari lubuk hati paling dalam, saya minta maaf. Karena semua itu hanya sekedar rasa berbagi saya untuk anda semua.
Karena sebentar lagi nih hari keagamaan umat islam yang mana hari yang di rasakan semua umat manusia di muka bumi ini akan di rayakan dengan penuh hikma, kayaknya dimana-mana semua pada ngobrolin soal arti idul fitri secara harfiah dan segala pernak perniknya..
Kali ini obrolan saya tak jauh-jauh dari Idul Fitri. Tapi Idul fitri yang aku bahas kali ini mungkin aga sedikit membuat anda berpikir untuk bagaimana sebenarnya merayakan hari kemenangan ini setelah sekian lama kita berusaha melawan segala hawa nafsu kita baik itu lapar dan dahaga, maupun hasrat yang lainnya!!!
Idul fitri dari jaman kita lahir mungkin telah dibentuk sebagai istilah sebagai hari kemenangan. entah itu kemenangan dari hawa nafsu, atau kemenangan dari apapun. Yang jelas idul fitri adalah hari kemenangan. Kenapa disebut hari kemenangan? Kenapa tak disebut sebagai hari pesta juara? atau hari yang menggunakan kata selain kemenangan?? kenapa harus menggunakan kata kemenangan??
Secara tata bahasa indonesia dikatakan : ju·a·ra n 1 Olr orang (regu) yg mendapat kemenangan dl pertandingan yg terakhir; sementara kata ke·me·nang·an n 1 hal menang: – itu diperolehnya dng perjuangan berat; 2 keunggulan; kelebihan: kekalahan dl harta ditebus dng – dl ilmu dan amal. http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php
Sebenarnya memang tak cukup menyenangkan jika kita menggunakan kata kemenangan ketika kata itu kita gunakan untuk mewakili hari idul fitri setelah kita tahu arti secara kamus besar bahasa indonesia. Kenapa? Karena kita merasa kita telah bertarung melawan hawa nafsu kita. Kita telah berjuang melawan semua halangan di depan mata. Dan kita semua tahu itu. Mungkin akan lebih tepat jika kita menggunakan kata hari menjadi juara sebagai peringatan untuk hari yang fitri tersebut. Karena kita bukan hanya menang. Tapi kita JUARA. Menjadi juara dalam pertandingan melawan syetan. Dan sebuah bentuk pertandingan adalah salah satu unsur utama disematkannya kata juara. Berbeda dengan kemenangan yang lebih bersifat general dan tanpa ada keterangan melalui sebuah pertandingan atau perlombaan. Tapi ada yang menguatkan kenapa kata kemenangan lebih pantas disematkan. Coba perhatikan kata itu diperolehnya dng perjuangan berat.
Nah bingung kan? Sebenarnya kita ini juara atau menang? Kalau kita bilang juara memang betul. Karena kita kan melawan hawa nafsu. Hawa nafsu sendiri sebenarnya kalau ditarik sebuah bentuk dapat dikatakan sebagai satu biji atau buah atau bongkah yang bersifat tunggal. Terlepas jika anda katakan bahwa hawa nafsu itu ada nafsu makan, nafsu untuk minum sampai nafsu birahi. Yang jelas hal tersebut bisa dikatakan sebagai sebuah bentuk komposisi yang dalam bahasa indonesia diberi kata : hawa nafsu.
Kemenangan sendiri sebenarnya juga ga salah. Karena kalau secara bentuk pembahasan kita dapat memegang teguh pada arti secara harfiah dari kata kemenangan yang sudah saya sebutkan diatas tadi. Dimana kemenangan itu diperoleh dengan perjuangan yang berat. Memang juara juga melewati perjuangan yang berat. Namun kata juara lebih merujuk pada bentuk pertandingan sementara kemenangan lebih menjurus pada hasil akhir. Dan lagi sebenarnya kata kemenangan juga lebih besar cakupannya. Lihat cukilan berikut :
Kemenangan yang kita raih di idul fitri sebenarnya bukan kemenangan yang kita dapat selama berpuasa saja. Namun lebih dari itu, kita juga menang melawan rasa malas yang berada di urutan ketiga setelah haus dan lapar. Kenapa bisa begitu? Karena coba kita ingat. Selama puasa kita lebih rajin sholat. Rajin tarawih. Bahkan sampai mau sahur. Dimana sahur juga merupakan bagian dari ibadah. Mungkin banyak juga yang menambahkan dengan baca qur’an dan sebagainya. Namun secara umum, hal tersebut diatas bisa kita rasakan sebagai kemenangan kita dari rasa malas. Yang mana rasa malas sendiri juga merupakan bagian dari hawa nafsu. Dimana hal tersebut membawa kita pada satu taraf lebih tinggi, setidaknya menyentuh taraf terbiasa dan ga enak jika ga dilakukan lagi.
Jadi kemenangan juga menduduki taraf yang sama dengan kata juara sebagai kata yang sepadan untuk menggambarkan hari yang paling dinanti oleh anak kecil di indonesia ini.
Dan ada satu riwayat yang pernah aku baca di salah satu mmajalah islam terkemuka... dimana menceritakan suatu kisah seorang muslim yang begitu mencintai agamanya sehingga di rela berjuang demi kepentingan agamanya.... hingga pada suatu hari setelah umat muslim menjalankan bulan puasa selama sebulan penuh di bulan ramadhan... tibalah hari kemenangan yang di anggap suci oleh umat islam hari yang dimana telah membuat segala sesuatu pada diri kita kembali bersih.
setelah selesai melaksanakan sholat Idul fitri di lapangan org taat ini pun balik ke rumahnya untuk bersilahturahmi kepada keluarga-keluarga terdekatnya dan saling memaafkan kesalahan yang dulu pernah dia perpuat. namun setelah dia tiba di rumahnya di tertegun sesaat melihat apa yang terjadi... dimana di meja telah tersedia berbagai makanan lezat yang mengundang selera... dan penampilan yang begitu mewah menampilkan segala kemilauan perhiasan... tidak lama kemudian dia pun menangis berlari ke mesjid untuk minta ampunan kepada Allah.swt. dia telah menangisi segala kesalahan yang di perbuat selama ini... namun mengapa, setelah sekian lama dia menahan lapar dan haus kini setelah hari kemenangan itu tiba semua seperti hampa. dia merasa telah di kalahkan oleh syetan yang selama ini dia lawan untuk tidak tegoda bujuk rayu... segala kesombongan manusia telah keluar setelah hari kemenangan itu tiba... diamana kita semua telah saling mempamerkan apa yang kita miliki, dan memakan makanan yang begitu membuat kita kenyang sesaat... dan melupakan hikma di bulan ramadhan...Jangan menghancurkan pahala selama Ramadhan dengan makhsiat di hari Raya seperti peremppuan yang mengurai kembali benang yang sudah dipintalnya (QS. Al-Nahl:92) “ kata K
dimana semua kemunafikan telah kembali lagi ke dunia... semoga kita bisa selalu menjadikan bulan setelah ramadhan ini menjadi bulan ramadhan berikutnya.. maksudnya segala dosa yang telah kita perbuat, kita betul-betul menyadari dan bertobat untuk tidak pernah melakukannya lagi.
Dalam ajaran agama Islam “ dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesunguhnya pemboros-pemborosan itu adalah saudara-saudara Syaitan dan Syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya “